Posted by gita on Feb 25, '12 8:59 AM for everyone Setelah empat tahun menekuni dan menjalani, saya bisa bilang bahwa saya cinta homeschooling. Dengan segala macam teori dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Kecintaan ini memberikan berbagai dampak positif dan satu kekhawatiran di hati, mengingat Cha sudah berusia 4,5 tahun. "Akankah Cha sekolah? Kalau ya, akan sekolah di mana? Sekolah yang seperti apa?" dan berbagai pertanyaan lainnya. Tadinya saya berniat mengikuti jejak Moore Formula dengan better late than early-nya; tidak menyekolahkan anak sampai usianya enam atau tujuh tahun. Cha mendekati usia segini ternyata bikin saya kebat-kebit juga.
Pernah tiba-tiba Cha meminta, "Ummi, aku mau sekolah!" sahutnya sambil menunjuk gambar sekolah di majalah.
Saya berusaha tenang. "Boleh.."
"Aku mau sekolah sama dino ya, Mi. Ada nggak, ya?"
Saya langsung nyengir lebar, dweh. :)
Sewaktu di Salatiga, Mbak Septi sempat bercerita tentang pengalaman homeschooling Elan, putra bungsunya. Ketika Elan berusia empat tahun, Mbak Septi menanyakan, "Elan mau sekolah atau nggak?" Elan jawab, "Mau."
Dicarikanlah sekolah dan Elan hanya bertahan beberapa hari atau minggu saja. Setelah itu berhenti karena Elan bosan dengan sekolah. Di usia lima tahun, Mbak Septi kembali bertanya, "Elan mau sekolah atau nggak?" Hal yang sama kembali terjadi: Elan sekolah, lalu berhenti. Tahun-tahun berikutnya Mbak Septi terus menanyakan hal yang sama. "Mau sekolah atau nggak?" Sampai akhirnya di usia enam atau tujuh tahun, Elan mengatakan bahwa ia mau homeschooling sampai jenjang SMA.
Cerita Mbak Septi merupakan hal yang menarik buat saya. Di kala saya khawatir Cha minta sekolah, Mbak Septi malah berlaku sebaliknya. Malam itu, saya bercerita dan bertanya kepada beliau [konsultasi pribadi ceritanya. hehe..]. Beliau menjawab, "Pendidikan itu hak anak, Mbak. Kita harus memberikan kebebasan anak untuk memilih. Ketika Elan menjawab akan sekolah, kami mencarikan sekolah yang sesuai dengan visi misi kami. Lalu, kami ajak Elan survey ke sekolah yang sudah kami survey terlebih dahulu."
Wah! Ini dia yang terlewat oleh saya. Memfilter sekolah. :)
"Kalau Elan suka dengan sekolah itu, Elan boleh lanjut. Tapi kalau Elan nggak suka, Elan boleh berhenti. Saya bebaskan anak untuk memilih," lanjut Mbak Septi.
Setelah diskusi malam itu, beberapa hari berikutnya, saya bertanya kepada Cha. "Cha, mau sekolah atau homeschooling?"
"Homeschooling. Homeschooling juga sekolah kan, Mi?"
Wiiihh.. jawaban yang di luar dugaan.
Lalu, ketika sampai di rumah, saya bertanya lagi, "Cha, mau sekolah atau homeschooling?"
"Homeschooling," jawab Cha.
Lega hati saya ketika sudah memberikan anak, hak untuk memilih pendidikan yang akan dijalaninya.
*catatan tambahan: sebelum bertanya, kami sudah sering berdiskusi tentang apa dan bagaimana sekolah dan homeschooling itu. Cha juga pernah mengantar dan menjemput sepupunya sekolah. :)
 | Hmmmm.... *mangut2* maaf ya mba... aku pikir anak balita belum punya hak sebesar itu untuk bisa menentukan apakah ia bersekolah (di sekolah biasa ato homescholl) atau tidak. Menurut saya sangat penting bagi anak untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya di sekolah. Kalo dia sudah smp dia menginginkan homescholl mungkin oke, tapi belum 5 tahun, kok saya kurang sependapat ya... Itu pendapat saya lho Mba...:) |
 | lovusa wrote on Feb 25, edited on Feb 25 halo, mbak :) tenang, mbak. siapa saja boleh berpendapat kok.
menjalani homeschool nggak berarti anak nggak bersosialisasi lho, mbak. arti home di sini bukan berarti anak berada di rumaaaah terus, tapi pendidikan yang dijalani adalah berbasis keluarga. anak saya tetap main dengan temannya [yang lebih kecil, juga lebih besar], bisa menyapa ramah mbak/mas sayur yang lewat depan rumah, bisa bergaul dengan sepupu2 dan nenek kakeknya dengan baik, bisa langsung berbaur dengan teman2 yang baru dikenalnya, dll. banyak cara tuk bersosialisasi :)
oh ya, saya pikir, saat anak sudah bisa diajak untuk berdiskusi, berpikir, dan memilih.. kenapa tidak memberikannya kesempatan untuk berpikir, bertanya, dan memilih? :) |
 | pke ujian jg ya? maklum ga buta soal yg atu ini . |
 | Semangat belajar ya Cha, dimanapun itu :) memang, HS populer krn banyak artis cilik yg 'kepaksa' HS krn hari2nya kebanyakan buat kerja. Menurutku HS boleh2 aja, asal semua siap. :) ortu siap membimbing, dan anak siap mendapatkan ilmu. |
 | Aku punya temen yg guru HS, kbanyakan yg HS yg sekolahnya berarakan. Etapi cha mah, HS krn penuh kesadaran ya....:) semangat mb gita... |
 | semangat ya Cha... semangat mbak Gita!
|
 | Ditanyain aja tiap thn kyk mbak septi thd elan, git. Dgn dmikian tiap thn cha slalu punya hak memilih. Tetap smangat ya! |
 | btw, cha udah pernah tau sekolah yang bukan homeschooling apa belum, ya? atau sejauh apa yang ia tahu tentang sekolah tsb. |
 | Aku selalu salut kalo baca tulisan Gita tentang HS. Apapun yg dipilih untuk cha, pasti gita sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang ya :) Aku pribadi belum atau mungkin tidak tertarik ya dengan HS. Bukan berarti jelek lho ya, hehehe. Tapi hanya merasa tidak cocok saja untuk aku yg masih kurang konsisten dan disiplin. Makanya sampe sekarang masih memilih sekolah konvensional untuk anak2. Alhamdulillah, sejauh ini sih Dafa cukup menikmati sekolahnya. Mudah2an seterusnya ya :) Semangat HS juga untuk Cha! |
 | Git, maap nanya2 lagi *lupa udah pernah dikasih link belum* misalnya mau HS sampe' jenjang SMA gitu, silabus dan ujian penyetaraan untuk dapet ijazahnya gampang gak ngurusnya ? pertimbangannya siapa tahu di tengah jalan si anak ternyata mau sekolah, gak semua sekolah mau nerima anak yg enggak berpendidikan formal kan ? *minta copy rapor, ijazah dll* |
 | halo, mbak :) tenang, mbak. siapa saja boleh berpendapat kok.
menjalani homeschool nggak berarti anak nggak bersosialisasi lho, mbak. arti home di sini bukan berarti anak berada di rumaaaah terus, tapi pendidikan yang dijalani adalah berbasis keluarga. anak saya tetap main dengan temannya [yang lebih kecil, juga lebih besar], bisa menyapa ramah mbak/mas sayur yang lewat depan rumah, bisa bergaul dengan sepupu2 dan nenek kakeknya dengan baik, bisa langsung berbaur dengan teman2 yang baru dikenalnya, dll. banyak cara tuk bersosialisasi :)
oh ya, saya pikir, saat anak sudah bisa diajak untuk berdiskusi, berpikir, dan memilih.. kenapa tidak memberikannya kesempatan untuk berpikir, bertanya, dan memilih? :)  super like this! |
 | PKBM itu apa Git *lagi lemot mau gugel ...hihi* pengen tahu lebih lanjut, siapa tahu niy ayahnya bakalan pindah2, sepertinya menarik juga HS biar gak ribet cari sekolah :-D  pusat kegiatan belajar masyarakat. coba baca di sini tuk lengkapnya ya, mbak: http://rumahinspirasi.com/ujian-paket-a-b-c-gratishehe.. iya. kalo suka pindah2, HS bisa jadi salah satu alternatif :) |
 | alternatif lain untuk pendidikan? Imo, belum waktunya dia bisa memilih pendidikan apa yang baik untuk dia, apalagi urusan membedakan want & need. |
 | Eh kog jadi teringat kenangan masa TK ya ? Saya tuh ga betah banget deh belajar di dalam kelas, selalu saja inginnya belajar di ruang terbuka, bebas bereksplorasi. Waaah ternyata bukan sekedar keinginan anak kecil (kesiaaan deh anak kecil dianggap kecil pendapatnya :P), ternyata keinginan saya tsb adalah kebutuhan ! Btw, bukan karena hal di atas yah jadinya anak saya HS seperti Chacha, karena udah jatuh cintaaaa dengan HS. |
| |